Mengenal Teknologi Reproduksi pada Hewan

Tidak bisa dipungkiri bahwa suatu teknologi sejatinya muncul dari permasalahan yang ada, tak terkecuali dalam dunia peternakan. Peningkatan permintaan manfaat dari sektor ini untuk pemenuhannya terkadang tidak bisa diimbangi oleh kemampuan alami dari hewan ternak itu sendiri; yang memerlukan waktu lebih lama. Dengan permasalahan yang ada, pada tahun 1996 ilmuan Ian Wilmut mencetuskan sebuah riset tentang proses pengembangbiakan hewan buatan yang nantinya ia sebut sebagai teknologi kloning. Bersama rekannya di Roslin Institute Edinburgh, Skotlandia Ian membuat teknologi kloning pertamanya. Kloning adalah pembuatan suatu organisme dengan meniru organisme lainnya. Kloning pada hewan dilakukan dengan menggunakan sel tubuh hewan untuk kemudian dikembangbiakan menjadi satu individu yang utuh.
Seperti saat Ian Wilmut mengambil seekor domba untuk dijadikan bahan penelitiannya. Pertama-tama ia mengambil sel ovarium pada domba betina dan mengambil sel kelenjar mamae dari domba betina lain, lalu mengeluarkan nucleus sel telur dan memasukan sel kelenjar mamae kedalam sel telur yang sudah tidak memiliki nucleus. Selanjutnya, sel telur yang mengandung sel kelenjar mamae tersebut dimasukkan ke uterus indukan domba betina yang nantinya akan mengandung dan melahirkan anak domba hasil kloningan.

Nah, begitulah penjelasan singkat dari proses pengembangbiakan hewan secara kloning; cukup menarik bukan.

Mengenal Teknologi Reproduksi pada Hewan

Ada apa? China Babi dan Robot

China, babi, lalu apa hubungannya dengan robot? Dengan maksud ingin mengurangi ketergantungan negara pada babi hasil pembiakan impor, para peneliti di China berhasil mengembangkan robot yang disebut bisa mengkloning babi secara otomoatis. Sepertinya wajar jika para peneliti di negara itu begitu bersusah payahnya dalam mengembangkan teknologi ini, China sendiri merupakan negara dengan konsumsi daging babi terbesar di dunia.

Melansir South China Morning Post melalui detikinet, para peneliti itu mengumumkan kemajuannya dalam pengembangan tersebut. Pada Maret 2022, seekor induk babi melahirkan tujuh anak babi hasil kloning di College of Artificial Intelegence Universitas Nankai di Tianjin, China. Seorang peneliti yang juga terlibat dalam pengembangan tersebut mengatakan "Setiap langkah proses kloning dilakukan secara otomatis, dan sama sekali tidak melibatkan pengoperasian oleh manusia." Sebelumnya, beberapa bagian dari proses kloning termasuk penghapusan sel telur masih harus dilakukan oleh manusia. "Makalah peer-review akan segera muncul di jurnal Engineering untuk melaporkan detil teknis," Liu, peneliti yang dimaksud, menambahkan. Liu berharap kemajuan ini dapat membuat stok babi yang berkualitas tinggi lebih banyak tersedia di China, dan bahkan dapat membantu negara itu mandiri di tengah kekhawatiran akan rentannya pembatasan impor dari AS dan negara-negara barat lainnya.

Mantan peneliti di Chinese Academy of Agricultural Sciences yang membantu memproduksi babi kloning pertama di China 2005 lalu, Pan Dengke juga berkata "Jika berhasil, sistem otomatis ini dapat dikembangkan menjadi perangkat kloning yang bisa dibeli oleh perusahaan atau lembaga penelitian mana pun, sehingga ilmuan tidak perlu melakukan kloning manual yang memakan waktu."

Dari info di atas, apakah Kroketers juga memperhatikan? Bahwa masalah yang dialami oleh negara China itu hampir mirip dengan negara kita, tapi yang membedakan adalah jenis hewannya. Di Indonesia permintaan terhadap daging sapi cukup tinggi, namun sayangnya tidak diimbangi oleh pengadaan daging sapi yang memadai. Akibatnya, harganya pun melambung tinggi dan sulit dijangkau oleh masyarakat kebanyakan, sehingga kebutuhan masyarakat pun tersendat. Semoga dengan keberhasilan para peneliti di China itu bisa memberikan motivasi kepada para pemangku kepentingan di negara kita dalam pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat ini.

Ada Apa? China Babi dan Robot



Komentar

Posting Komentar